NASA Info :

STOP...!! WASPADAI PRODUK TIRUAN, Pastikan belanja dari AGEN / DISTRIBUTOR RESMI NASA
Terhitung mulai 1 Juni 2016 PT Natural Nusantara melakukan penyesuaian harga baru untuk produk Agrokompleks. Untuk memperoleh kepastian harga baru, seilahkan menghubungi admin kami di nomor 081991144085

Terimakasih,
Admin N-386159

TEKNOLOGI ORGANIK NASA

N-386159 Eko N Nasa 0 comments

GO ORGANIC merupakan salah satu acuan PT NASA untuk mewujudkan tercukupinya kebutuhan sumberdaya alam yang berkesinambungan di segala bidang, terutama di sektor Agrokompleks. 

Peran teknologi ORGANIK NASA untuk meningkatkan produksi dan kualitas pertanian secara berkelanjutan.


GO ORGANIC (Alternatif Solusi Krisis Pangan Gobal)

Respon utama terhadap ancaman krisis pangan global tentunya dengan membangun komitmen setiap bangsa atau negara untuk memenuhi ketahanan pangan bagi rakyatnya. Ketahanan pangan suatu negara dapat ditempuh melalui jalur impor pangan atau swasembada pangan. Hanya saja, ketergantungan pada pangan impor akan membawa resiko tinggi bagi suatu negara. Pasokan pangan impor dapat terhenti secara tiba-tiba misalnya karena embargo, instabilitas politik, perang, bencana alam, ataupun kebijakan perdagangan suatu negara. Belum lagi adanya fakta ancaman global warming dan kebijakan banyak negara produsen pangan mengkonversi bahan bakar fosil ke bahan bakar nabati (bio-fuel), hal ini terbukti mempengaruhi stok pangan dunia dan berdampak pada terus melambungnya harga pangan dunia. Beberapa resiko tersebut mendorong setiap negara menempuh jalur swasembada pangan sebagai dasar untuk mencapai kemandirian pangan tanpa tergantung dari negara lain sehingga dapat tercipta kemandirian suatu bangsa. 


Swasembada pangan dapat ditempuh dengan modernisasi pertanian melalui intensifikasi pertanian, antara lain memanfaatkan berbagai jenis teknologi berbahan dasar kimia sintetis (pupuk kimia, hormon kimia, pestisida kimia, dll.). Tetapi sejarah panjang intensifikasi pertanian yang diterapkan oleh hampir semua negara produsen pangan,  telah berujung pada stagnasi produksi, kerusakan ekosistem pertanian, dan membengkaknya biaya produksi.

Studi kasus di Indonesia bahwa sejak akhir tahun delapan puluhan, mulai tampak terjadinya kelelahan pada tanah dan penurunan produktivitas pada hampir semua jenis tanaman yang diusahakan. Produksi tanaman tidak menunjukkan kecenderungan meningkat walaupun telah digunakan varietas unggul yang memerlukan pemeliharaan dan pemupukan secara intensif melalui bermacam-macam paket teknologi. Malah sebaliknya telah berdampak antara lain meningkatnya degradasi lahan (fisik, kimia dan biologis), meningkatnya residu pestisida dan gangguan serta resistensi hama penyakit dan gulma, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta terganggunya kesehatan masyarakat sebagai akibat dari pencemaran lingkungan.

Fakta-fakta tersebut menjelaskan bahwa praktek pertanian dengan hight eksternal input (input luar yang tinggi) seperti penggunaan pupuk anorganik dan pestisida kimia ’yang tidak bijaksana’, telah membawa kesadaran baru bagi segenap pihak yang berkepentingan dengan pembangunan pertanian untuk kembali menyusun strategi baru dalam menanggulangi dampak negatif, meskipun masih terdapat keragaman pada tingkat kesadaran. Salah satu wujud kesadaran tersebut adalah munculnya perencanaan agroekosistem yang kembali pada sistem pertanian organik. 

PRESPEKTIF PERTANIAN ORGANIK
Filofisofi pertanian organik menurut banyak kalangan adalah ”back to nature”, wacana yang mengemuka terhadap pemahaman filosofi tersebut bahwa budidaya pertanian organik dilakukan serba alami. Misalnya pemupukan menggunakan pupuk alami seperti pupuk kandang, pupuk hijau (tanaman polong-polongan) dan kompos. Pemanfaatan asam-asam organik, zat pengatur tumbuh (homon) organik. Pengendalian hama, penyakit tanaman dan gulma dilakukan secara biologis (rotasi tanaman, polikultur, agensia hayati), maupun fisik atau mekanis (perangkap hama).

A. Kendala Pemupukan Bahan Organik dalam Pertanian Organik.
Pemahaman ”back to nature” tersebut adalah benar, tetapi aplikasi dilapangan kenyataannya masih menghadapi banyak kendala, terutama dalam hal sistem pemupukan menggunakan bahan organik. Kendala yang muncul antara lain : 
  • Penyediaan Pupuk Organik
    Pertanian organik mutlak memerlukan pupuk organik sebagai sumber hara (nutrisi), utamanya bagi pemenuhan unsur mikro. Dalam sistem pertanian organik, ketersediaan hara bagi tanaman harus berasal dari pupuk organik semisal pupuk kandang, pupuk kompos dll. Padahal dalam pupuk organik tersebut kenyataan menunjukkan kandungan hara (nutrisi) per satuan berat kering bahan jauh dibawah  hara yang dihasilkan oleh pupuk anorganik (kimia). Kebutuhan atau dosis ideal penggunaan pupuk kandang adalah 20 – 40 ton/ha. Dengan dosis ideal setinggi itu ketersediaan pupuk kandang, kompos, maupun pupuk hijau tidak mencukupi, Sehingga petani kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar tanaman (minimum crop requirement) akan pupuk kandang dengan dosis ideal tersebut.

    Selain hal di atas juga dihadapkan pada tingginya biaya produksi (harga beli mahal, membutuhkan biaya transportasi dan tenaga kerja relatif tinggi) sehingga kurang praktis dan ekonomis.
  • Kualitas pupuk kandang, pupuk hijau dan kompos bervariasi sehingga sulit bagi petani untuk bisa membuat kualitas yang sesuai standarifikasinya.
  • Berisiko mengandung bibit penyakit dan gulma, kompos yang berasal dari limbah industri dan rumah tangga sering mengandung logam berat dan bakteri coli yang berbahaya bagi kesehatan.
  • Menghadapi persaingan dengan kepentingan lain dalam memperoleh dan memanfaatkan sisa pertanaman dan limbah organik.
B. Strategi Pengembangan Pertanian Organik.
Mempertimbangkan berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi dalam penerapan pertanian organik (identik dengan pupuk kandang atau kompos), ancaman penurunan produksi dan terus berkurangnya lahan-lahan produktif, serta tantangan dan tuntutan masa yang akan datang maka sudah saatnya kita harus menyempurnakan kembali pemaknaan ”bact to nature”, yaitu bahwa pertanian organik yang diterapkan harus tetap diimbangi dengan kekuatan teknologi disertai konsep strategi yang tepat.

Pertanian organik berteknologi harus tetap berprinsip tepat guna, praktis, menguntungkan secara ekonomi, mampu menjaga dan meningkatkan  produktivitas (aspek kuantitas dan kualitas), serta berkelanjutan menurut pertimbangan lingkungan (aspek kelestarian) dan harus didukung sistem distribusi pangan yang baik.

Dalam pertanian organik disamping komponen dan kesejarahan lahan, juga sistem budidaya tanaman (pola tanam, rotasi tanaman, perawatan, dll). Isu-isu yang sensitif dan sering diperdebatkan adalah menyangkut komponen yang mempengaruhi proses produksi pertanian itu sendiri, terutama komponen yang didalamnya terlibat campur tangan manusia (melibatkan industri agrokimia), antara lain pupuk kimia, pestisida kimia, Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) atau hormon tumbuh sintetis, dan bibit/benih transgenik. Berkaitan dengan hal tersebut, yang perlu dikaji bersama adalah :

  • Pertanian organik belum dapat diterapkan secara murni, mengingat cukup banyak kendala yang dihadapi. Hal ini didukung fakta keilmuan dan kepentingan mendasar dalam mewujudkan ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan, antara lain:
    • Prinsip serapan hara (nutrisi) oleh tanaman yang punya zat hijau daun (chlorophil daun) adalah dalam bentuk mineral tersedia (bentuk ion-ion), tidak peduli mineral tersebut dari bahan organik (kompos, pupuk kandang), bahan an-organik alami (batuan mineral sebagai bahan induk pembentukan tanah), maupun bahan an-organik buatan (pupuk kimia). Bahan organik akan mengalami dekomposisi terlebih dahulu menjadi hara mineral tersedia, sedangkan bahan an-organik akan mengalami mineralisasi terlebih dahulu menjadi hara mineral tersedia.
      Gardner, et.al.(1985) menyatakan “samasekali dilupakan kenyataan bahwa hara atau nutrisi itu memasuki tumbuhan dalam bentuk ion-ion, tidak peduli apakah asal pupuk itu organik (pupuk kandang) ataupun anorganik (pupuk kimia). Filosofi kaku mengenai cara bertani/berkebun organik melupakan kenyataan bahwa tumbuhan tinggi itu autotrofik (dapat mensintesis semua penyusun pertumbuhan tubuh yang penting dari unsur-unsur dasar).” 
    •  Pertimbangan mendasar hingga saat ini, bahwa khusus untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur N, P, dan K bahan organik hanya mampu mensuplai maksimal 5% dari total kebutuhan tanaman jika ingin dicapai produksi yang tinggi. Oleh karena itu masih diperlukan suplai dari pupuk an-organik khususnya unsur N, P dan K. Pupuk an-organik buatan dalam proses pembuatannya (skala pabrikasi) melibatkan zat atau senyawa sintesis/kimia. Unsur hara utama N, P, dan K tetap sangat dibutuhkan tanaman untuk menopang produktivitas tanaman, tetapi zat atau senyawa sintesisnya-lah (filler) yang nyata-nyata berdampak pada penurunan kualitas kesuburan lahan pertanian. Dampak dari zat ataupun senyawa sintesis ini sebenarnya bisa diatasi dengan asam-asam organik (misal : humat, vulvat) yang berasal dari bahan/pupuk organik. Sehingga tidak bijaksana apabila secara langsung melarang penggunaan pupuk an-organik (kimia) pada sistem pemupukan. Solusi alternatif yang bisa diambil adalah bahwa penggunaan pupuk an-organik (kimia) harus selalu diimbangi dengan penggunaan bahan/pupuk organik (pemupukan berimbang). Sejalan dengan proses pembangunan kesuburan tanah menggunakan pupuk organik akan meningkatkan kesuburan biologi tanah, dan secara berangsur kebutuhan pupuk an-organik yang berkadar hara tinggi dapat dikurangi.
    • Perpaduan budidaya organik dan an-organik (kimia) disebut Integrated Plant Nutrition Sistem (IPNS). Sistem ini sudah mulai dikembangkan oleh FAO dan diterapkan di beberapa negara di kawasan Asia dan Pasifik. Integrated Plant Nutrition Sistem (IPNS), adalah sistem perpaduan pupuk organik dan pupuk an-organik, tetapi secara berangsur kebutuhan pupuk an-organik yang berkadar hara tinggi dapat dikurangi. Dalam IPNS penggunaan pupuk organik bertujuan jangka panjang untuk membangun suplai cadangan nutrisi dalam tanah yang baik dan mantap. Penggunaan pupuk an-organik bertujuan jangka pendek untuk memasok hara secara cepat sambil menunggu berfungsinya suplai cadangan nutrisi hara yang efektif secara berkelanjutan. Disamping itu penggunaan pupuk an-organik yang diimbangi dengan pupuk organik, maka degradasi/kerusakan lahan dapat diminimalisir bahkan teratasi.
    • Dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman sesuai dengan sistem PHT (Pengelolaan Hama Terpadu). Dalam sistem PHT penggunaan pestisida kimia tidak dilarang, hanya dijadikan tahap pengendalian paling akhir jika terpaksa harus dilakukan (karena bagaimanapun juga petani harus panen, kecuali diterapkan jaminan kompensasi gagal panen). Tetapi penggunaan pestisida kimia pun harus tetap memperhatikan petunjuk aplikasi yang bijaksana. Sebelum tahap pengendalian menggunakan pestisida kimia, prosedur pengendalian harus melalui tahap : (1) Pengendalian dengan menggunakan varitas tahan; (2) Pengendalian dengan sistem budidaya yang benar (olah tanah, jarak tanam, pemupukan, sanitasi, dll); (3) Pengendalian secara fisik dan mekanis (perangkap hama); (4) Pengendalian secara hayati (agens hayati, pestisida nabati, dll).

      Keempat prosedur tersebut harus terlebih dahulu dilakukan, sebelum menggunakan pestisida kimia. Namun demikian tetap dihimbau agar kita sebisa mungkin cukup sampai tahap pengendalian hayati selama kerusakan belum mencapai ambang ekonomi, karena sesungguhnya alam sudah tercipta secara seimbang (rantai makanan), sehingga yang perlu dilakukan adalah menjaga keseimbangan ekosistem.
    • Dalam penggunaan hormon tumbuh atau Zat Pengatur Tumbuh (ZPT), sebaiknya gunakanlah ZPT organik. Penggunaan ZPT sintesis yang ‘tidak bijaksana’ juga bisa berpengaruh negatif pada tanaman itu sendiri, semisal umur produktif tanaman menjadi semakin pendek.
    • Penggunaan bibit atau benih sebisa mungkin bukan bibit/benih hasil transgenik. Karena saat ini banyak pakar pertanian di dunia sangat mengkhawatirkan dampak jangka panjangnya. Dan saat ini pun, perdebatan seputar transgenik masih menjadi isu menarik bagi ilmuwan, potitikus hingga praktisi.   
  • Solusi tekonologi PT. NATURAL NUSANTARA (NASA), meliputi pupuk dan hormon organik, serta pengendali alami hama dan penyakit tanaman.
    • Produk pupuk organik dari PT. NATURAL NUSANTARA antara lain POC (Pupuk Organik Cair) NASA, (Pupuk Organik Cair) BINTANG TANI, POP (Pupuk Organik Padat) SUPERNASA dan SUPERNASA GRANULE, POP, POWER NUTRITION, (Pupuk Organik Serbuk) GREENSTAR

      Produk pupuk-pupuk organik PT. NATURAL NUSANTARA (NASA) memenuhi tuntutan aspek K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kelestarian). Secara umum teknologi pupuk dari PT. NATURAL NUSANTARA (NASA) disamping organik murni juga mampu menggantikan peran pupuk kandang dalam hal kelengkapan unsur hara, khususnya pemenuhan unsur hara mikro. Misalnya satu liter POC NASA setara dengan satu ton (1.000 kg)  pupuk kandang, khususnya dalam hal unsur hara mikronya.

      Secara kuantitas dan kontinuitas (keberlanjutan),  ketersedian bahan baku (material raw) Pupuk Organik NASA mampu mencukupi kebutuhan total luas lahan di seluruh Indonesia dalam jangka waktu sangat lama (16.000 tahun), hanya dengan menggunakan 30% saja deposit sumber bahan baku alami sehingga masih cukup banyak tersisa (70%) untuk kebutuhan dunia termasuk Brunei.

      Produk pupuk-pupuk organik PT. NATURAL NUSANTARA (NASA) juga sudah diperkaya dengan kandungan hormon tumbuh tanaman alami, enzym, asam amino, dan asam-asam organik.

    • Produk Hormon Tumbuh Tanaman (Growt Hormone) organik
      Produk hormon tumbuh (ZPT) dari PT. NATURAL NUSANTARA (NASA) adalah HORMONIK yang berfungsi memacu pertumbuhan, pembungaan dan pembuahan tanaman sehingga mendapatkan hasil panen yang optimal.

      HORMONIK mengandung Zat pengatur Tumbuh Organik terutama IAA (Auksin, Giberelin dan Sitokinin) yang di formulasikan dari bahan-bahan alami, bisa untuk semua jenis tanaman juga tidak membahayakan bagi kesehatan manusia maupun binatang.
    • Produk Pengendali Hama dan Penyakit Tanaman
      Sumber Bahan Baku
      Nama Produk
      Sasaran Utama
      Tanaman Berkhasiat

      Ulat, wereng, Penggerek batang, walang sangit, dll
      Hama kutu-kutuan, ulat

      METILAT
      Perangkap Hama, khususnya serangga
      Mikroorganisme :
      1. Jamur
      Gliocladium Sp. dan Trichoderma sp.






      Layu (fusarium, sp) Rebah semai atau (Phytium Sp), dll.
      Beveria bassiana Sp.


      Walang sangit, kutu-kutuan, wereng dll
      Virus


      Spodoptera litura (Ulat grayak pada cabe, tomat, kacang, dll.)
      VIREXI
      Spodoptera exigua (Ulat grayak pada bawang-bawangan)
Jika terpaksa harus dilakukan pengendalian menggunakan pestisida kimia maka untuk mengurangi jumlah pestisida kimia yang digunakan dengan tidak menurunkan tingkat efektifitasnya maka perlu dicampur perekat, perata dan pembasah. Berkaitan dengan hal itu PT. NATURAL NUSANTARA (NASA) memberikan solusi produk organik perekat, perata dan pembasah AERO810.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
Post: TEKNOLOGI ORGANIK NASA
By: Eko N Nasa
Rating: 5 dari 5
Untuk Info Poduk dan Pemesanan:
Silahkan CALL/SMS: 081-991144-085 atau BB Pin: 74F905BB
http://www.indonaturalplus.com/2014/06/teknologi-organik-nasa.html
Memuat...
Copyright©2014 Agen Resmi Produk NASA | Pupuk Organik.